Diskominfo Berau Siap Evaluasi Infrastruktur Telekomunikasi di Kampung Rawan Banjir
POSKOTAKALTIMNEWS, BERAU : Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kabupaten Berau, Didi Rahmadi, menegaskan pihaknya saat ini tengah melakukan pemantauan dan evaluasi menyeluruh terhadap infrastruktur jaringan telekomunikasi di beberapa Kampung, terutama yang terdampak banjir dan gangguan listrik.
“Dari pantauan sejumlah fasilitas teknologi informasi dan
komunikasi masih berfungsi, seperti di salah satu PAUD yang hingga kini masih
aktif. Namun, sebagian besar titik jaringan lainnya mengalami kendala akibat terputusnya
aliran listrik. Kami terus memonitor dan melakukan evaluasi. Ada beberapa titik
yang masih bisa difungsikan, namun banyak juga yang tidak karena permasalahan
daya listrik," ujarnya.
Diskominfo Berau juga
mempertimbangkan relokasi titik jaringan untuk wilayah yang rawan banjir.
"Bila memang akan ada penempatan ulang ini tentu akan kami koordinasikan
dengan kepala kampung setempat. Kami juga akan survei ulang untuk mencari titik
baru yang memungkinkan sinyal dapat ditangkap dengan baik," jelasnya.
Tahun ini, lanjut
Didi, Kabupaten Berau akan mendapat tambahan jaringan melalui program lanjutan
Bupati sebanyak 496 titik. Selain itu, dari Pemerintah Provinsi Kalimantan
Timur juga akan diberikan satu titik jaringan internet berkapasitas 40 Mbps
untuk setiap kampung.
"Mudah-mudahan
ini bisa menjawab kesenjangan informasi serta mendukung pelayanan dan kegiatan
di kampung-kampung," tambahnya.
Terkait waktu
perbaikan, Didi menjelaskan bahwa jika kerusakan hanya pada daya listrik, maka
perbaikan bisa selesai dalam 3–4 hari. Namun, untuk wilayah yang lebih jauh dan
membutuhkan penggantian alat, prosesnya bisa memakan waktu hingga satu bulan.
Ia mencontohkan kejadian di Merabu yang tersambar petir sehingga memerlukan
penggantian perangkat.
"Perbaikan dan
penggantian alat tetap akan dilakukan, meskipun beberapa mungkin harus
dianggarkan ulang pada periode selanjutnya. Untuk kampung yang belum terdampak,
pembiayaan bisa disubsidi silang," kata Didi.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa untuk jangka panjang, penggunaan infrastruktur jaringan milik operator besar seperti Telkom atau Telkomsel lebih ideal. Namun, keterbatasan kewenangan pembangunan menara komunikasi yang berada di tangan pemerintah pusat menjadi tantangan tersendiri.
"Kami hanya bisa
mengusulkan dan mengevaluasi titik-titik yang layak untuk dipindahkan, namun
kewenangan pembangunan tower tetap di pusat," tutupnya. (sep/FN)